APAKAH ADA HUBUNGAN DEPRESI DAN KEMAMPUAN UNTUK BERSABAR?

Dino mondar-mandir di depan pintu sambi menggerutu, saat saya sedang ngobrol dengan orangtuanya mengenai sekolahnya.

Ia menggerutu dan sesekali mengatakan "Ayo ma...aku udah lapar..". Ibunya menganggukan kepala dan memberi isyarat untuk bersabar.

Wawancara mengungkap lebih banyak perilaku Dino yang tidak sabaran ini. Mulai dari membeli mainan yang harus dituruti...sampai yang paling parah adalah menggunakan kartu kredit ibunya untuk membeli voucher game di internet yang nominalnya cukup besar.

Saat saya tanya bagaimana reaksi orangtua saat tahu anak melakukan perilaku diluar batas, mereka menjawab "dimaafkan".

Saya mengingat bagaimana orangtua saya mengasuh waktu saya masih kecil. Waktu itu usia saya 6 tahun, mengambil uang koin seratus rupiah yang jatuh dilantai..saya masukan kantong...lalu membawanya main bersama kakak....saat main uang itu terjatuh..lalu kakak bertanya itu uang siapa...saya bilang saya ambil dari rumah karena terjatuh dilantai...sepulang ke rumah kakak melapor ke ibu.....berjam-jam ibu menceramahi saya tentang bagaimana perilaku yang benar saat menemukan barang bukan milik kita....beberapa saat ibu tidak menyapa saya...dan saya sangat sedih sekali...kemudian ibu menjelaskan mengapa saya dihukum...

Anda para generasi X dan Y pasti juga familiar dengan pola asuh yang keras dan terkesan otoriter ini bukan? Namun yang terjadi saat ini sungguh sangat berbeda. Daniel Goleman pakar kecerdasan emosi menemukan hubungan antara kemampuan menunda keinginan dengan kesuksesan seseorang. Ia juga mengulas bagaimana orang-orang yang terpuruk hidupnya karena tidak memiliki kecerdasan emosi yang cukup (dibahas oleh ahli lain juga melibatkan kecerdasan spiritual).

Selama praktik klinis saya juga menemukan pola yang sama terhadap orang-orang yang mengalami gangguan depresi, kecemasan dan psikosomatis. Mereka bermasalah dengan kemampuan mengelola emosi.

Saat mereka punya keinginan, harus segera terpenuhi. Pikiran mereka biasanya terlalu rigid/kaku. Mereka tidak pandai menghibur diri dengan selftalk yang logis...mencari logika yang benar atas kesalahan berpikir mereka...dan pikiran mereka obsesif (berpikir pikiran yg sama terus-menerus).

Ini sangat berhubungan dengan kemampuan bersabar..

"Lho pak, dia itu depresi karena terlalu banyak bersabar..".

Okey. Kita perlu bedakan antara bersabar dengan putus harapan. Bersabar adalah tetap menginginkan yang kita inginkan, namun memiliki pemikiran yang optimis. Bersabar yang benar juga harus disertai tindakan-tindakan nyata untuk mencapai kondisi yang diinginkan tersebut...

Sedangkan putus harapan...adalah ketidaksabaran menghadapi usaha-usaha yang memiliki kemungkinan gagal...orang yang putus harapan tidak sabar dengan rasa sakit akibat kegagalan...dan lebih memilih untuk pasrah..berdiam diri..dan menikmati ketenangan dari hasil melarikan diri dari tanggungjawab....

Saya berpendapat bahwa orang semacam ini adalah orang yang memiliki sifat hedonis....meskipun kelihatannya menarik diri dan sangat menderita sekali...

"Saya depresi karena banyak pikiran..."

Ya. Memang jika kita terlalu banyak pikiran, maka otak kita akan overload....dan bisa-bisa jadi hang....tapi yang bisa kita garis bawahi disini bukan banyaknya pikiran yang sedang kita pikirkan...namun isi pikiran tersebut dan emosi yang menyertainyalah yang paling penting....

Mengajari anak sejak dini untuk berpikir positif tentang masa depan...menanamkan kebiasaan mengucapkan "terimakasih", "minta tolong" dan meminta "maaf" saat salah...akan menumbuhkan kecerdasan sosialnya...

Mengajari anak untuk menunda kesenangan...mengajarinya menabung untuk mengumpulkan uang yang akan dibelikan mainan idamannya...akan menumbuhkan kecerdasan emosinya....

Proses penginstalan software kecerdasan emosi dan sosial ini akan lebih mudah saat anak usia 13 tahun kebawah...selanjutnya bisa dikatakan "agak" terlambat..karena manusia sudah mulai berpikir kritis....

Namun jika kita sudah berusia dewasa dan ingin memperkuat kecerdasan tersebut....kita bisa melakukannya dengan cara-cara yang akan kita bahas lain kali...

Salam,

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi