BAGAIMANA MENG-HIPNOSIS BALITA?

Banyak pertanyaan serupa dari Ibu-ibu yang notabene memiliki anak dibawah usia remaja. "Pak apakah kita bisa menghipnosis anak yang masih balita dengan memberinya sugesti ketika ia masih agak tertidur".

Jawabannya adalah BISA! Asal anak paham bahasa yang anda gunakan untuk memberikan sugesti.

Namun begitu, sebenarnya yang menjadi pertanyaan, kenapa harus memakai hipnosis dalam membentuk perilaku anak? itu yang perlu dijawab.

Pada waktu belakangan ini Adam anak saya yang berusia 3 tahun, sangat menggemari mobil-mobilan, dan saat masuk ke indomart atau alfamart selalu meminta mainan tersebut. Jika tidak dibelikan menangis sejadi-jadinya. Hal ini berlangsung dalam beberapa bulan hingga akhirnya saya dan istri untuk memutuskan untuk membentuk perilakunya ini.

Kami berdua menyepakati untuk belajar "tega" melihat anak menangis saat permintaannya tidak dituruti. Bahkan saat mengamuk, kami akan biarkan dan cueki saja. Setelah agak reda maka kami alihkan ke untuk melakukan aktifitas lain, seperti menggambar, atau jalan-jalan didepan rumah.

Hari-hari pertama usaha itu tidak mudah. Saat ke indomart dan tidak dibelikan mainan, ia tantrum, dan akhirnya mamanya membelikannya mainan. Lalu saya dan istri membahas kembali, kenapa kok tidak berhasil? kenapa hati ini masih tidak tega? oh itu karena kita melihat wajahnya yang memelas dan saat si Adam menangis kencang, kita malu dengan orang yang ada di toko sehingga membelikan mainan adalah upaya "ces-pleng" untuk meredakan itu semua.

Hari kedua kami mencoba kembali. Meski Adam menangis, namun akhirnya kami berhasil keluar toko tanpa membeli mainan. Kami mengatakan bahwa dirumah sudah banyak mainan, dan kalau ingin mainan nunggu nanti kalau ulang tahun. Hal ini berlanjut hingga hari ketiga, ia menangis tapi sudah tidak begitu lama. Kami terus memberitahu kenapa kok ia tidak dibelikan mainan.

Akhirnya hari ke empat. Saat kami berbelanja, ia nyelonong sendiri ke tempat mainan dan mengambil mainan tersebut, lalu dibawanya kekami, ia bilang "daddy mainan ya...ga boleh ya...nanti ulangtahun aja..."...lalu saya jawab.."ayok kembaliin sayang..."...dia menjawab.."iyaa.."..iapun mengembalikan ke tempat asalnya...lalu bilang "babay mainan..." dan berlari kearah kami...

Hal yang lain yang kami lakukan adalah menghilangkan rasa takutnya terhadap balon. Tidak tahu kapan tepatnya rasa takut Adam terhadap balon, yang jelas waktu itu ia menangis saat ada balon didekatnya. Ada ekspresi geli/jijik dan lalu berlari menghindari balon tersebut. Ini berlangsung juga beberapa bulan. Hingga akhirnya saya berinisiatif menghilangkan perilaku ini.

Saya sering menunjukan padanya memegang balon tersebut, dan memainkannya dengan tangan, bahkan memeluk balon tersebut dengan ekspresi senang. Setelah beberapa kali saya lakukan, ternyata Adam mulai tidak risih saat berdekatan dengan balon, bahkan esoknya ia mulai memainkan balon tersebut sama persis dengan bagaimana saya memainkannya.

See?! saya jadi menduga-duga bahwa rasa takutnya terhadap balon adalah hasil "modeling" dari luar, mungkin melihat orang yang takut balon, atau bisa juga saat ia merasa takut karena alasan lain kebetulan waktu itu didekatnya ada balon. Saya tidak tahu bagaimana tepatnya. Tapi yang jelas dari hal ini adalah adanya proses belajar untuk menjadi takut, dan proses belajar untuk tidak takut.

Anak-anak, dalam berpikir masih didominasi akal batinnya atau pikiran bawah sadarnya. Terlebih anak balita. Sehingga saat ia melihat sesuatu, mendengar sesuatu, maka akan cepat menjadi perilaku yang cenderung menetap baginya.

Saat anak beranjak 7 tahun, maka akal pikirannya mulai menguat, ia mulai belajar lebih banyak dan menganalisa lebih kuat, meskipun tidak sekuat saat ia beranjak remaja.

Hipnoterapi adalah upaya membantu seseorang untuk melakukan pembelajaran dengan lebih cepat dengan cara me-non aktifkan/melemahkan bagian yang tidak mudah menerima perubahan yang letaknya di batas bawah pikiran sadar (Sistem Aktivasi Retikuler), sehingga orang tersebut dapat menanamkan perubahan secara lebih cepat. Nah jika balita itu belum didominasi oleh pikiran sadar, maka kenapa harus memakai hipnosis?

Dan.. jika ada pertanyaan.

"Jadi, apakah balita itu bisa di hipnosis untuk membentuk perilakunya yang nakal?"

Sebenarnya yang perlu di hipnosis adalah orangtuanya. Hehehe..(maaf bercanda)

Salam,

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi