ORANGTUA YANG MERASA BERSALAH DAN ANAK YANG "RUSAK"

"Sudah nak, sudah..." saya melihat Andi (bukan nama sebenarnya), anak usia 10 tahun itu mencengkeram lengan baju ibunya dengan tangan kiri dan memukul punggungnya secara membabi buta.

Saya cukup heran, padahal beberapa hari yang lalu dia sangat manis sekali dan menjawab semua pertanyaan saya dengan baik.

Lalu ruli adalah anak usia 12 tahun yang 3 bulan mogok sekolah karena merasa di Bully oleh teman sekelasnya. Setelah saya tanya lebih lanjut ternyata temannya hanya meledek yang niatnya hanya bercanda.

Selanjutnya ada Budi, yang di konsulkan karena mengancam menusuk ibunya karena tidak dibelikan Handphone terbaru.

Rekan-rekan pembaca, jika kita soroti kejadian ini dari sudut pandang awam, maka kita bisa saja mengatakan bahwa anak tersebut nakal karena melakukan hal-hal diluar aturan. Namun jika kita telaah lebih dalam kembali, maka kita akan melihat bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara pola asuh orangtua dan perilaku anak.

Dari 3 kasus yang saya paparkan diatas, saya menemukan kesamaan, dan ini juga sama dengan kasus-kasus yang lain. Kesamaan tersebut adalah "pembiaran" yang berkelanjutan.

Saat saya tanya pada Ibu Andi "apa biasanya yang anda lakukan saat anda dipukul seperti itu?" sang ibu menjawab "ya saya biarkan saja pak, karena saya yakin suatu saat ia akan berubah?"

"Baik Bu..kira-kira sejak kapan ini berlangsung?" saya tanya kembali. " Sudah berlangsung sekitar 4 tahunan lah pak"..."Saat ibu biarkan apakah ia bisa berubah seperti yang ibu pikirkan?"...sang ibu hanya diam...

Dari ke 3 kasus yang berasal dari pembiaran tersebut ternyata bersumber dari rasa bersalah orangtua terhadap anaknya. Ada orangtua yang sibuk sekali bekerja, pulang larut malam, berangkat pagi buta. Ada yang merasa bersalah karena bercerai dengan pasangannya. Ada yang merasa bersalah karena merasa miskin, tidak bisa membalikan yang dimau anak. Ada yang merasa bersalah karena anaknya adalah anak angkat. Ada yang merasa bersalah karena anaknya sakit-sakitan. Ada yang merasa bersalah karena anaknya pernah ia pukul. Ada yang merasa bersalah dengan dirinya sendiri atau masa lalunya dan diproyeksikan ke anak.

Perasaan bersalah yang berlebihan ini yang akhirnya membuat orangtua terlalu mengijinkan anak berbuat semaunya. Saat anak mau membolos, orangtua bilang "ya sudah, besok tapi harus masuk ya..", saat anak bangun siang tidak ditegur, saat anak memukul dan membentak..orangtua berpikir.."tidak apa-apa..ini karena salahku...".

Dengan memberikan semua yang anak mau, tidak akan pernah membuatnya tumbuh dengan baik. Memberikan semuanya dengan dalih kasih sayang, sebenarnya mungkin bisa digali kembali..apakah itu wujud dari rasa bersalah orangtua..ataukah orangtua mau "cuci tangan" dengan mengatakan pada dirinya sendiri.."aku sudah membahagiakan mereka"...

Anak sebenarnya tidaklah butuh game, gadget, bahkan uang...kalau mereka mengenal kasih sayang yang tulus...

Mereka keranjingan game...karena orangtua mengenalkannya agar anak tidak mengganggu pekerjaan orangtua dirumah...

Mereka hanya butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya.

Mereka hanya ingin melihat mama papanya duduk bercengkerama, bercanda dan mengajaknya jalan-jalan mengelilingi perumahan...

Mereka hanya ingin, saat hendak tidur, orangtuanya ada dan mengucapkan selamat tidur sambil mengecup kening, dan saat bangun ada yang bilang "selamat pagi sayang...".

Harta boleh banyak. Kedudukan boleh terhormat. Anda boleh punya banyak hal didunia ini.

Tapi tahukah? anak anda...baginya dunia mereka hanyalah anda...anda orangtuanya....

Salam sayang untuk keluarga terkasih.

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi