HATI-HATI! IBU BEKERJA DIRUMAH, TERKADANG LEBIH SIBUK DARIPADA BEKERJA DIKANTOR

Sebagai seorang suami, saya pribadi senang jika istri tidak bekerja di kantor yang berangkatnya pagi pulangnya sore...

Saya seneng karena istri bisa ngurus anak dengan baik, dan selalu ada saat saya pulang kantor. Meskipun toh menjadi full time mother itu sangat berat. Ada rasa ingin mengaktualisasikan diri sebagai seorang perempuan, dan membuktikan kepada diri sendiri dan dunia bahwa ia adalah seorang yang mampu berdiri dikaki sendiri...

Beberapa istri yang tidak bekerja dikantor biasanya mereka membuat usaha dirumah. Mulanya hanya usaha kecil-kecilan namun ternyata banyak pula usaha kecil-kecilan itu menjadi besar dan menyita banyak waktu.

Yang tadinya pembeli satu dua, sekarang sudah belasan bahkan puluhan. Yang tadinya toko online hanya punya beberapa pembeli dalam sehari, sekarang sudah banyak sekali, sehingga waktu habis untuk membalas chat pembeli, mengepak dan mengirim barang. Kadang juga lembur sampai malam karena banyaknya orderan.

Nah, ini nih. Yang awalnya niatnya tidak bekerja di kantoran dengan niat agar bisa ngasuh anak, ternyata niat menjadi bergeser saat dagangan mulai membesar.

Seperti beberapa kasus yang saya jumpai di ruang praktik. Anaknya yang mau naik kelas 4 SD saya asesmen ternyata memiliki kecerdasan yang "lumayan", dinyatakan oleh gurunya tidak layak naik kelas karena katanya tidak bisa membaca. Ternyata memang BENAR dia tidak bisa membaca!

Saya lihat sepintas, tidak ada yang salah dengan anaknya. Saya asesmen juga tidak ada gangguan yang nampak, bahkan kecerdasannya diatas rata-rata. Saya curiga ada kecenderungan disleksia, juga tidak terbukti. Nah, kecurigaan saya tersisa satu, pola asuhnya!

Saya tanya kesibukan ibu dan ayah, sang ibu bilang bahwa suaminya bekerja sebagai karyawan, namun ia selalu ada dirumah dan selalu ada disamping anak.

Saya tanya apakah anak dilakukan remedial teaching dirumah, ia menjawab "Anaknya ini pak males kalau saya suruh belajar".

Saya kembali bertanya "sering ibu mengajaknya belajar?", sang ibu menjawab "ya kadang-kadang". Saya semakin penasaran dan akhirnya menemukan informasi yang saya perlukan untuk memahami kasus ini.

Ternyata si ibu ini bekerja dirumah dan sangat sibuk hingga malam. Anaknya memang selalu dirumah, disamping ibu, akan tetapi ibunya memberinya Handphone dan si anak selalu memainkan HP nya setiap hari selama berjam-jam.

Saya kembali bertanya, sejak kapan anak ini terpapar HP? ibunya bilang semenjak usia balita sudah pegang HP dan komputer untuk main game.

Alasannya adalah agar tidak mengganggu aktifitas ibunya yang super sibuk tersebut.

Saya kasihan sekali, karena anak ini menjadi sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, dan mudah emosi jika ada hal yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya...

***************

Mengasuh anak dengan baik itu bukan melulu ada disamping anak saja, akan tetapi bagaimana kita memastikan bahwa anak berkembang secara mental sesuai dengan tahapan perkembangan usianya.

Pertanyaan saya kepada anda, dari 0 sampai 10, dimana 0 adalah kurang sekali waktu untuk anak dan 10 selalu ada untuk anak, kira-kira angka anda ada diberapa?

Silahkan share dan komen dibawah....


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi