TEGURAN ITU DIMULAI DARI DADA KITA

Sering kita mengabaikan perasaan dari lubuk hati yang paling dalam. Sebuah alarm primitif yang kerjanya berlaku untuk manusia paling canggih sekalipun.

Alarm itu akan bergetar saat kita mulai tidak mengikuti arus yang benar atau keluar dari orbit. Jika Tuhan mengatakan bahwa kita diciptakan di dunia hanyalah untuk beribadah, maka alarm ini akan berbunyi saat ada hal-hal yang kita lakukan yang niatnya tidak ibadah pada Tuhan.

Saya bukan ustad, bahkan ilmu agama masih sangat cetek. Namun sebagai seorang yang berkecimpung di dunia "hati" manusia, saya mengamati sebuah pola yang sangat konsisten, terjadi pada siapapun.

Saat kita mulai keluar orbit, maka hati kita tidak damai.

Ingat-ingatlah, kapan kita terakhir mengeluhkan tentang sedikitnya rejeki yang mampir di hidup kita, itu menandakan kita mulai tidak percaya bahwa Tuhan Maha Kaya.

Dengan keyakinan yang demikian inilah, yang membuat kita bekerja hanya sekedar mencari uang, bukan ibadah. Saat kita bekerja dengan maksimalpun, itu hanya agar kita dapat repeat order, bukan agar Tuhan tersenyum melihat usaha kita membantu sesama.

Itulah mengapa perusahaan-perusahaan besar yang bisa bertahan sampai belasan dekade, biasanya memulai dari MISI terlebih dulu. Apa yang bisa mereka lakukan sehingga menimbulkan "perbedaan" pada hidup orang lain?

Mereka tidak memikirkan uang, tentu saja bukan sama sekali non profit, akan tetapi uang adalah dampak dari pelayanan mereka terhadap masyarakat.

Ketika Triliyuner Richard Branson, sang pengusaha kaya yang digadang-gadang memiliki 400 perusahaan terbukti berjaya hingga saat ini, ternyata memiliki MISI yang sangat dalam yang intinya adalah memberikan kebaikan kepada dunia, memberikan kepada kehidupan dan sebanyak-banyaknya manusia.

Ini berarti dia mengorbit kepada Tuhan, meskipun toh secara akidah jelas berbeda dengan keyakinan saya, namun saya melihat orang-orang yang memiliki tujuan untuk menjadi "khalifah" di bumi, memiliki MISI yang bertujuan baik untuk sesama makhluk, memiliki kecenderungan di dukung oleh Alam Semesta.

Nah, kita kembali ke ruang praktik. Banyak orang yang mengalami depresi dan kecemasan, kebanyakan bukan karena masalah yang super besar, akan tetapi karena mereka terlalu sibuk dengan mereka sendiri. Mereka takut tentang apa yang terjadi esok, bagaimana kalau suaminya selingkuh, bagaimana kalau anaknya tidak lulus ujian, serta pikiran-pikrian penyesalan di masa lalu. Intinya mereka hanya memikirkan dirinya sendiri.

Sinyal berupa ketidaknyamanan tersebut sebenarnya sudah berbunyi semenjak lama. Awalnya mungkin berupa perasaan yang tidak enak. Lama-lama jika dibiarkan akan mulai mengganggu emosi. Yang bersangkutan menjadi mudah marah, mudah tersinggung, baper.

Jika hal ini masih dibiarkan, maka mulai merembet mempengaruhi mood sehingga terjadilah gangguan mood dan gangguan pikiran.

Namun, jika gejala tersebut juga masih dibiarkan, biasanya gejala psikis tersebut akan di "konversi" atau diubah menjadi gejala fisik, sehingga yang bersangkutan merasa sakit fisik namun tidak mengalami gangguan apapun dalam fisiknya.

Mereka mengalami perasaan tidak enak dan keterpurukan lainnya karena mereka mengingkari tujuan penciptaan mereka sendiri, yaitu jadi pemelihara alam, menjadi makhluk yang berguna untuk sesama.

Tidak ada pilihan lain lagi dari orang-orang yang keluar dari "fitrah"nya ini untuk kembali kepada orbit yang seharusnya.

Dengan cara apa? dengan cara melakukan yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Seorang khalifah.

:)

Danang Baskoro

www.brilianpsikologi.com


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi