MENGATASI PERASAAN TIDAK MAMPU

Pernahkah anda merasa saat hendak melakukan sesuatu dan semuanya sudah siap untuk dilaksanakan, tiba-tiba terbersit pemikiran “ah..mana bisa aku lakukan..”, “ ah…itu terlalu berat..”, “ hanya orang lain yang bisa melakukannya..” dan sebagainya. Saat kita mulai menuruti apa yang dibisikkan pikiran kita, maka keraguan mulai nampak, dan jika kita terus tertarik mendengarkan bisikan itu maka kita akan benar-benar ragu bahkan tidak melakukannya sama sekali.

Banyak sekali diantara kita yang secara sadar ataupun tidak mendengarkan bisikan-bisikan itu, sehingga apa yang kita lakukan menjadi terganjal, bukan oleh orang lain akan tetapi oleh diri kita sendiri.

Dalam kasus yang lebih ekstrim, mendengarkan bisikan ketidak mampuan atau kegagalan secara berulang-ulang dapat menyebabkan masalah emosional (emotional disturbance) yang parah hingga kematian akibat bunuh diri.

KETIDAKBERDAYAAN YANG DIPELAJARI

Para behavioris melakukan suatu eksperimen dengan mengkondisikan seekor anjing agar mengalami suatu ketidakberdayaan ketika diberikan stimulus yang menyakitkan (aliran listrik). Pada situasi awal anjing dalam kondisi bebas, dan diberi kejut listrik yang menyakitkan ke tubuhnya sehingga ia berlari menghindari alat yang beralirkan listrik tersebut. Pada percobaan berikutnya masih dengan anjing yang sama, sang anjing diposisikan sedemikian rupa hingga ia tidak dapat bergerak ketika listrik dialirkan ke tubuhnya, dan hal tersebut diulang hingga beberapa kali. Ternyata setelah anjing dikembalikan pada kondisi semula dan dapat bergerak bebas, ketika peneliti memberinya aliran listrik, sang anjing mendenguh kesakitan namun tidak menghindar dari alat yang menyetrumnya.

Berdasarkan penelitian inilah para behavioris membuat kesimpulan bahwa organisme mempelajari segala sesuatu termasuk rasa tidak berdaya dalam menghadapi rasa sakit, tidak terkecuali manusia. Ketika manusia dihadapkan pada suatu kejadian yang menyakitkan (traumatis) akan tetapi disaat kejadian itu berlangsung ia tidak mampu berbuat apapun, maka sebenarnya ia mulai belajar mengenai “ketidakberdayaan” terhadap rasa sakit atau bencana. Sehingga hal tersebut akan berpotensi membuatnya “lumpuh” ketika menghadapi kesulitan yang serupa bahkan kesulitan yang sebenarnya lebih ringan yang dihadapinya dimasa depan.

Dengan ketidakberdayaan yang didapatnya tersebut, maka akan terjadi sederetan panjang pemikiran negatif, pemikiran mengalahkan diri, berburuk sangka, over generalization dan segala yang berkaitan dengan “ketidakberdayaan”.

"FENOMENA PERCINTAAN LEBIH BAIK AKU YANG MEMUTUS DIA, DARIPADA AKU YANG DIPUTUS"

Anda mungkin pernah mengamati drama percintaan yang dilakukan oleh orang-orang disekitar kita. Dalam hal ini saya melakukan riset kecil-kecilan dengan mengamati orang-orang yang baru putus cinta. Secara umum pengamatan saya menunjukkan hasil bahwa orang yang lebih cepat bangkit dari rasa depresi karena putus hubungan dengan kekasihnya adalah orang yang mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya tersebut. Lalu yang sangat sulit bangkit dari keterpurukan adalah orang yang tidak terima saat diputus, merasa dianiyaya, merasa ditipu, tidak diperlakukan dengan adil ataupun hal-hal lain yang berhubungan dengan perasaan diri sebagai korban (ketidakberdayaan). Sehingga mungkin saja keterpurukan yang dialami oleh seseorang yang patah hati adalah karena merasa dirinya sebagai orang yang kalah dalam duel pertengkaran tersebut. Ataupun orang yang cepat bangkit karena ia telah memenangkan pertempuran dimedan laga.

Namun begitu, tidak semua orang yang merasa dianiyaya (dalam kasus ini) selalu lama mengalami keterpurukan, saat ia mulai sadar bahwa ia tidak boleh merasa kalah dan harus segera bangkit dari rasa duka yang dialaminya.

KATA-KATA ADALAH PENGANTAR MENUJU KEDALAM EMOSI TERTENTU

Tidak naïf jika kita tahu alasan mengapa ada yang disebut “kata-kata mutiara”, “kata-kata bijak”, “petuah” atau kata-kata yang membawa kita kepada penguatan pikiran dan hati.

Sebenarnya bukanlah mitos jika sebuah kata-kata akan berdampak pada emosi anda bahkan perilaku anda. Ingat-ingat ketika anda membaca sebuah buku cerita misteri atau percintaan. Atau karangan terkenal J.K Rowling yaitu Harry Potter, yang membuat anda berada dalam dunia si pengarang. Hanya dengan membaca buku Harry Potter, anda seolah-olah dapat melihat pemandangan yang ada dalam buku tersebut, warna dan bentuk benda-benda bahkan seolah-olah anda mengetahui aroma dan nuansa yang dituangkan dalam cerita tersebut. Sebenarnya itu bukanlah sesuatu yang palsu anda alami, sebenarnya anda benar-benar mengalaminya.

Manusia telah lama mengasosiasikan kata-kata dengan sesuatu didalam otak yang kita namakan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kinestetik. Prinsip kerjanya sama dengan aroma parfum seseorang yang tidak kita kenal dengan aroma parfum yang beraroma sama orang yang biasa kita temui. Prinsip ini pula yang dipakai oleh para hipnoterapis dalam melakukan proses induksi terhadap kliennya. Dengan memberi suatu kata-kata yang jelas dengan perintah atau deskripsi tertentu, maka sang klien dapat merasakan sensasi indrawi karena stimulus yang diberikan oleh hipnoterapis (sugesti).

THINKING LIKE A TIGER

Setelah mengetahui makna dari suatu kata-kata atau pernyataan dalam diri, maka sebenarnya kita lebih mempunyai kesadaran akan kendali diri terhadap emosi yang kita rasakan.

Bayangkan jika anda adalah seekor harimau yang tidak pernah menjadi korban. Harimau tidak pernah menjadi rantai terbawah dalam ekosistem. Meskipun terkadang harimau menjadi objek sasaran dari perburuan manusia, ia tetaplah sang raja hutan yang tidak pernah menjadi mangsa hewan lain.

Jika kita sadar bahwa ketidakmampuan kita adalah karena pembelajaran disituasi yang salah dengan pemaknaan yang salah dikala itu, kita sebenarnya telah memasuki suatu tahap pengendalian diri dengan berpikir menjadi pelaku, bukan korban. Sadari kata-kata yang anda ucapkan kepada diri anda sendiri dan mulailah menjadi “Sang Raja Hutan Rimba Pikiran dan Kehidupan Anda”

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi