MENJADIKAN DIRI SEBAGAI SUBJEK BUKAN OBJEK (CARA UNTUK MENGUASAI PERASAAN KITA SENDIRI)

Sore tadi Adam, anak saya berusia 3 tahun merengek minta botol susunya yang jatuh ke lantai mobil. Mamanya tidak mengijinkan ia meminumnya lagi karena ujungnya kotor. Adam nangis kencang dan sepertinya tidak rela sisa susunya yang masih separuh tidak boleh diminumnya.

Sayapun langsung berbicara dengan suara kencang padanya, "Adam lihat itu ada mobil gambar kucing", sontak ia pun melihat didepan mobil kami, sebuah mobil yang bergambar kucing. Lalu saya buat ia fokus kepada mobil-mobil lainnya, dan iapun ngobrol dengan saya tentang mobil-mobil itu selama beberapa menit. Tidak ada tangisan lagi, semua berganti dengan tawa canda, hingga ia melihat botolnya lagi dan mulai kembali merengek.

Bukankah kita sering seperti itu? merasakan perasaan tertentu karena kita fokus dengan pikiran tertentu, lalu entah karena tidak tahu atau tidak mau kita tidak merubahnya, asyik terlarut dengan "keadaan" tersebut.

Anda sedih diputus kekasih, lalu malah menonton drama korea atau mendengarkan lagu melow. Alih-alih bisa move on, anda malah semakin terpuruk berlarut-larut.

Anda marah dengan bos anda, lalu anda menceritakan pada teman kantor anda, mengajak mereka menggunjing keburukan bos. Alih-alih anda bisa tenang, anda malah menjadi uring-uringan sepanjang hari dan akhirnya merembet ke pekerjaan.

Hingga titik ini, jika anda tetap turuti perasaan itu, maka anda akan terseret ke tempat yang lebih jauh. Mungkin perasaan itu akan menjadi mood anda, watak anda dan tentu saja keberuntungan anda banyak terpengaruh oleh keadaan ini.

Lalu apa yang perlu kita lakukan?

yang perlu kita lakukan adalah memutus pola tersebut dengan SENGAJA!

Caranya? SADARI bahwa saat anda merasakan perasan tertentu itu berarti anda sedang mengalir dalam kesadaran tertentu. Seperti anda naik sampan dibawa arus sungai yang deras, anda harus sadari bahwa anda sedang berada dalam sampan itu.

SADARI dan PAHAMI bahwa anda bisa saja marah secara spontan, akan tetapi melanjutkan MARAH anda atau menghentikannya itu adalah keputusan anda.

Banyak orang yang berkeyakinan bahwa rasa MARAHnya disebabkan oleh orang lain. Sehingga ia melanjutkan marahnya, karena seolah-olah ia tidak bisa berkuasa atas keadaan tersebut.

Makanya, saat anda marah, kesal, bete, karena suatu situasi atau seseorang, selalu tanyakan pada diri anda sendiri : " eh, aku lagi marah ya? mau dilanjutkan gak marah ini?ada gunanya ga kalau aku lanjutkan?". Saat anda bertanya seperti itu kepada diri anda, anda mulai mengambil posisi sebagai SUBJEK atas situasi tersebut, bukan sebagai OBJEK yang merasa didalam sampan dan terseret arus sungai yang deras.

Kemampuan "Keluar-Masuk" perasaan satu ke perasaan lain adalah kompetensi yang membuat anda terlihat sebagai seorang yang "tangguh" dan "matang". Anda tidak mudah terpengaruh oleh situasi dan anda bisa memilih perasaan apa yang perlu anda alami sekarang.

Latihlah kemampuan "Keluar-Masuk" perasaan ini sesering mungkin, sehingga "otot" mental anda terlatih.

Caranya :

Tontonlah drama korea yang sedih, lalu saat adegan sedih dimulai dan anda mulai terbawa, sadarilah bahwa anda saat ini berada dalam sampan dan sedang terbawa arus yang namanya KESEDIHAN. Amati diri anda sendiri, bahwa saat ini anda sedang terbawa suasana. Lalu tanyakan pada diri sendiri "eh aku lagi sedih ya? mau dilanjutkan gak sedih ini?ada gunanya gak aku lanjutkan? jika anda sudah mampu untuk menahan diri untuk tidak "terbawa" dan bahkan anda menertawakan pemain drama itu karena bisa saja berperan cengeng, anda sudah mampu untuk beralih dengan SENGAJA dari perasaan SEDIH ke perasaan LUCU.

Begitu juga saat hendak berbicara kepada atasan yang super GALAK itu. Sebelum menghampirinya, ingat-ingatlah kenangan dimana anda berbicara dengan orang yang menentramkan hati anda? siapa itu? temukan orangnya, lalu bayangkan ia ada didepan anda, sedang berbicara kepada anda. Rasakan nyamannya berbicara dengan orang itu dan lukiskan kenyamanan itu sebagai cahaya dengan warna tertentu yang anda suka lalu sebarkan keseluruh tubuh anda. Rasakan dimana letak kenyamanan itu? didada kah? di leherkah? diperutkah? lalu perbesar perasaan tersebut dan sebar keseluruh tubuh. Berjalanlah menuju bos dengan membayangkan wajahnya seramah teman anda. Yang meskipun si bos memarahi anda, anda akan bersikap biasa saja karena rasanya ia adalah teman anda. Marahnya dia adalah perhatiannya dia kepada kita atau ke perusahaannya.

Cara ini tidak seteknis diatas. Anda bisa ambil "prinsipnya" saja, lalu anda buat versi anda sendiri.

Semakin sering anda berlatih untuk pindah dari satu perasaan ke perasaan lain, maka otot kuasa mental anda akan semakin terlatih.

Selamat berlatih!

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi