KEKERASAN RUMAH TANGGA SEBAGAI HASIL BELAJAR DARI MASA LALU

Eksperimen yang cukup fenomenal yang dilakukan Albert Bandura pada tahun 1961 dan 1963. Ekpserimen ini menarik karena pada waktu itu banyak yang mempercayai bahwa agresifitas sudah ada didalam diri seseorang semenjak dilahirkan.

Banyak yang berpendapat bahwa kecenderungan perilaku kekerasan adalah karena adanya dorongan dari bawah sadar, sifat yang diturunkan dari orang tua ataupun karena ada konflik dalam diri seseorang sehingga akhirnya mudah melakukan kekerasan.

Albert Bandura melakukan percobaan kepada 40 anak laki-laki, 40 anak perempuan yang kesemuanya berusia 4 tahun 3 bulan. Anak-anak ini dibagi menjadi 4 kelompok, kelompok A, B,C dan D. Masing-masing kelompok dimasukan keruangan berbeda dan di berikan perlakuan yang berbeda.

Kelompok A, melihat TV yang menayangkan seseorang yang menghajar seseorang lainnya sampai babak belur. Setelah orang yang diserang babak belur, orang yang menyerang diberi hadiah.

Kelompok B, melihat TV yang menayangkan seseorang yang menghajar seseorang yang lain, namun kali ini orang yang dihajar membalas, hingga orang yang menyerang tersebut mendapat kesakitan yang lebih parah.

Kelompok C, meihat TV yang menayangkan dua orang bermain bersama.

Kelompok D tidak diberikan tayangan TV.

Setelah selesai semua anak diberikan perlakuan, maka mereka dimasukan kedalam sebuah ruangan lainnya yang disana ada boneka BOBO. Boneka yang bisa memantul ke posisi semua setelah dijatuhkan. Anak diamati menggunakan cermin tembus pandang dan diukur menggunakan skala "mean imitative aggression scores for children". Temuan mencengangkan didapat.

Kelompok A melakukan kekerasan pada boneka BOBO dengan skor 15. Kelompok B mendapat skor 8. Kelompok C mendapat skor 6.5 dan kelompok D mendapat skor 4.5.

Temuan ini membuktikan bahwasanya perilaku agresif lebih banyak disebabkan pembelajaran dari apa yang dilihatnya dilingkungan. Tidak itu saja, ternyata anak juga memperhatikan konsekuensinya bagi dirinya. Jika ia melihat orang yang melakukan kekerasan ternyata malah diberi hadiah, maka ia akan lebih mudah menirunya. Namun jika perilaku kekerasan yang dilihatnya itu menimbulkan akibat yang buruk baginya, akan juga tetap ditiru tapi tidak setinggi yang mendapat hadiah.

Oleh karenanya tidak heran, jika kita menemukan orang dewasa yang suka melakukan kekerasan dalam mendidik anaknya atau melakukan kekerasan pada istri/suaminya biasanya didalam hidupnya sangat familiar dengan perilaku semacam itu. Entah itu ayahnya melakukan KDRT terhadap ibu, masa kecilnya penuh siksaan, atau hidup dilingkungan yang penuh dengan kekerasan lainnya.

Anda juga pasti masih ingat kejadian beberap tahun lalu, meninggalnya siswa sekolah kedinasan karena disiksa oleh kakak kelasnya sendiri. Apakah para kakak kelas itu dari dulu sudah "bengal"? kita tidak tahu, tapi yang jelas..ada budaya "penyiksaan" yang menjadi budaya disana, dan sang pelaku seolah-olah mendapatkan reward berupa kesenangan dan tidak ada hukuman dari pihak sekolah.

Contoh sumber yang mudah membentuk perilaku kekerasan oleh anak adalah game peperangan, tayangan gulat, tinju dimana kekerasan seolah legal bahkan mendapatkan hadiah.

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi