INNER CHILD YANG BELUM DAMAI

Seorang perempuan 30 tahun bernama Dara, mengatakan bahwa ia kesepian. Orang yang didekatinya banyak yang menjauh darinya. Ia tidak tahu mengapa, namun yang jelas ia baru sadar saat semuanya terasa berbada...

Saat ia menggali ingatan tentang bagaimana ia bergaul, ia seringkali teringat perasaan "tidak dianggap" oleh orang lain. Orang yang diajaknya mengobrol ia kira tidak suka padanya, atau tidak peduli. Oleh karenanya Dara lebih banyak diam saat berada di suatu tempat yang banyak orang.

Masalahnya adalah sang suami menginginkan ia bisa bergaul, mengingat suaminya adalah seorang pejabat di suatu perusahaan terkemuka. Dara semakin tertekan karena harus sering bertemu dengan para kolega suaminya.

"Saya sudah mencoba tips berbicara yang baik, tapi sepertinya perasaan tidak berharga itu selalu saja muncul.."

Selanjutnya ia juga bercerita bahwa dirinya sering dibanding-bandingkan oleh ayahnya. Setiap saat ayahnya mengatakan jika Dara tidak sepandai adiknya. Dara juga mungkin nanti tidak bisa jadi orang sukses.

Dalam ceritanya, Dara juga mengatakan jika ia masih ingat sekali adiknya dibelikan boneka namun dirinya tidak. Ia merasa sedih waktu itu, ia merasa tidak dihargai.

Para sahabat yang budiman, pernahkah dalam keseharian tiba-tiba merasakan emosi dan perilaku tertentu, lalu memunculkan perilaku tertentu yang akhirnya anda sesali? dimana saat anda memunculkan perilaku tersebut, rasanya tidak bisa mengintrospeksi diri, spontan saja munculnya dan baru anda bisa berpikir jernih saat anda sudah melakukan hal yang anda sesali tersebut?

"Perilakunya kekanak-kanakan"

Itu mungkin istilah yang tepat untuk menggambarkan Inner Child yang bermasalah dalam jiwa kita.

Inner Child merupakan bagian jiwa kita yang terbentuk saat kita masih kecil. Ia tetap ada di jiwa kita dan menjadi bagian dari sistem diri. Sulit memang dijelaskan secara neuropsikologi, namun siapa tahu penelitian masa depan bisa mengungkap fenomena ini secara menyeluruh.

Saat dimasa kecil kita mengalami peristiwa traumatik, baik yang terjadi secara benar-benar maupun adalah hasil intepretasi kita, maka jiwa kita akan mengalami luka yang menganga. Saat luka menganga ini tidak disembuhkan, maka ia berpotensi akan semakin parah karena tertumpuk dengan peristiwa-peristiwa negatif lain setelahnya. Dalam teori psikoanalisa proses disebut fiksasi atau terjadi kemandegan.

Proses "kemandegan" tidak dialami oleh orang yang masa kecilnya mengalami trauma saja, akan tetapi juga bisa dialami oleh orang yang masa kecilnya "terlalu nyaman", fasilitas disediakan berlebihan, terlalu dimanja, diagung-agungkan dan sebagainya. Sehingga saat beranjak dewasa, ketika menghadapi tantangan sulit, ia memilih untuk sembunyi dalam tempurung. Ia memilih menjadi "anak kecil". Biasanya akan yang terlalu di manja dan dituruti "mandeg" saat di kelas 1 SMP. Di masa ini sang anak sudah mulai menghadapi banyak tuntutan dan tekanan (masa remaja).

Perwujudan dalam perilaku lainnya adalah berupa mudah menyerah, menghindari tanggungjawab, pemarah, mudah sedih (baper), terlalu takut tersaingi, mudah curiga berlebihan dan pikiran serta perilaku lain, yang jika dibandingkan dengan usianya maka hal semacam itu tidak seharusnya dilakukan lagi.

Lalu bagaimana cara mengatasi perilaku negatif tersebut?

Dengan cara menyembuhkan INNER CHILD yang ada dalam diri kita. Kita bisa berbicara langsung dengannya agar ia bisa lebih damai dan tidak bereaksi berlebihan terhadap masalah.

Teknik yang bisa saya lakukan adalah dengan Ego State Therapy maupun Gestalt Therapy, yaitu memanggil Inner Child dan mengajaknya untuk berdialog dengan bagian yang lain. (sekali lagi aneh memang dan mungkin dijelaskan melalui perspektif neuropsikologi).

Dalam kasus-kasus pobia, kecemasan yang akut, depresi, psikosomatis, seringkali saya melibatkan Inner Child untuk diajak dialog. Terkadang klien merasa seperti kesurupan, namun bisa mengkontrol dirinya secara penuh.

Melalui teknik ini anda tidak perlu susah-susah melakukan induksi formal seperti prosedur hipnoterapi klinis , namun berpeluang mendapatkan hasil yang memuaskan.

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi