CARA MENYEMBUHKAN "PATAH HATI"

Anda pernah melihat orang bermain ding dong?atau semacam kotak yang kita bisa main dengan memasukan koin, lalu kita berkesempatan memenangkan hadiah boneka atau yg lain?

Saat orang tersebut memasukan koin pertamanya, lalu tidak dapat dia bersikap biasa saja. Lalu ia mencoba yang kedua, dan hampir berhasil..dia penasaran dan mencoba lagi.

Percobaan yang ketiga hampir berhasil juga, begitupula percobaan yang kelima dan keenam. Lalu ternyata sudah sampai pada percobaan yang ketujuh...ia menyadari koinnya habis...uang di dompetnyapun tinggal sedikit, hanya pas untuk ongkos pulang..namun karena dia merasa ia sudah menghabiskan begitu banyak uang dan "kepalang tanggung" maka iapun menggunakan uang terakhirnya itu untuk main...

Dan apa yang terjadi?...ia kalah...

Dalam keadaan ini, maka keinginan untuk main bertambah kuat..karena ia merasa telah "banyak memberi" atau "banyak berkorban"...artinya ia menginginkan "modal"nya kembali....

Nah, hal yang sama terjadi pada orang yang PATAH HATI..

Orang yang patah hati dengan sangat parah...meratapi dirinya yang malang...biasanya terjadi karena ia "merasa" telah banyak berkorban....

Kenapa kata "merasa" saya beri tanda petik? ya karena bisa jadi berkorban atau memberikan sesuatu itu hanya dari sudut pandangnya saja..bukan dari sudut pandang orang yang diberi pengorbanan tersebut..bisa saja orang yang diberi pengorbanan itu sebenarnya merasa terganggu, risih dan semakin "jijik"...sedangkan yang berkorban semakin terpuruk dengan perasaan "kekurangan" dan mengemis cinta...

Coba anda perhatikan dan jawab pertanyaan saya..

Biasanya parah mana patah hatinya...orang yang diputusin (ditinggal) atau yang mutusin (yang meninggalkan)?

Jawabannya adalah orang yang diputusin..

Dan ketika orang yang diputusin merasa tidak terima, maka ia sama halnya dengan menggenggam erat tangkai mawar berduri yang sedang ditarik jauh oleh orang lain..

Bayangkan..semakin erat genggamannya, maka akan besar pula lukanya. Toh..tangkai mawar itu akhirnya juga akan hilang juga bukan?!

So, disini saya akan menjelaskan untuk menghindari patah hati atau mungkin bisa menyembuhkannya...

1. Jangan terlalu banyak berkorban

Saat menjalin relationship (apalagi masih pacaran) jangan terlalu banyak memberi. eh, saya ulangi...Jangan terlalu banyak "merasa" memberi. Jangan mengorbankan kuliah, pekerjaan atau keluarga hanya untuk mengantarkan dia beli sesuatu. Jangan bohongi orangtua hanya untuk bertemu dengannya. Jika anda memang perlu memberi, maka berilah. Karena memberi dan berkorban adalah dua hal yang berbeda. Memberi berarti anda punya banyak, lalu anda berikan beberapa ke orang lain. Kalau berkorban? anda merasa jadi "korban". Yah, apapun dalih anda itulah faktanya.

2.Jangan menggenggam terlalu erat sesuatu yang akan dan sedang lepas...

Kalau anda sedang "diputusin", maka lebih baik anda bersiap untuk melepasnya selepas-lepasnya. Kenapa? karena semakin anda pegang, semakin sakitlah hati anda. Saat anda melepasnya, dan merelakan semua berlalu, terlebih anda juga memahami kesalahan tentunya tidak hanya ada di dia, maka anda akan lebih lapang dada. Intinya anda tidak terjebak pada frame (sudut pandang), dia yang salah..dia yang salah...saya jadi korban...atau bahkan..saya yang salah..saya yang salah..seharusnya tidak begini begitu.....pahami dan resapi bahwa ini juga faktor situasi...lebih kompleks dari sekedar menyalahkan orang lain atau diri sendiri...

3. Lebih dekatlah dengan keluarga

Ketika patah hati melanda, obat yang paling mujarab adalah "CINTA", dan cinta yang paling murni dan tanpa syarat adalah cinta KELUARGA. Jangan mencoba mencari cinta dari luar sebagai "pengganti" dari cinta anda yang lama saat anda masih pada fase "kehilangan", karena biasanya otak masih belum berpikir jernih, akhirnya bisa salah pilih karena niatnya hanya untuk "penyembuh luka" atau bahkan "balas dendam"...

4. Olahraga dan kejar karir/prestasi studi

Energi tidak bisa dihilangkan, ia hanya bisa diubah. Dengan hukum kekelan energi ini, perasaan patah hati sebenarnya adalah energi yang dahsyat. Anda perlu merubahnya dengan olahraga (agar tubuh anda bagus dan sehat) atau dalam bentuk rajinnya belajar/ bekera (agar nilai/karir anda baik)

Pada dasarnya semua kepedihan harus dijalani, karena tidak ada manusia yang kuat yang terbentuk hanya dari kesenangan. Easy to say, not easy to do. Benar sekali, tapi kita tidak punya pilihan lain selain Move On dan Move Up...

Good Luck!

Danang Baskoro


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi