PERILAKU ORANGTUA MENENTUKAN SEBAGIAN NASIB ANAK

Masih banyak orangtua di sekitar kita yang menginginkan anaknya tidak melakukan hal yang sedang dilakukanya sendiri.

Coba anda lihat, berapa banyak orangtua perokok yang ingin anaknya menjaga kesehatan, menginginkan anaknya patuh, bisa menahan nafsu, tapi ayahnya sendiri tidak bisa menahan nafsu untuk menjauhkan rokok dari kebiasaannya.

Banyak juga orangtua yang ingin anaknya rajin belajar, tapi dirinya tidak pernah tertarik membaca buku, hanya menonton sinetron, bahkan mungkin cangkurkan di warung kopi. Ingin anaknya rajin sholat, rajin mengaji, tapi dirinya sendiri chating dengan selingkuhan, masih mau menerima uang "abu-abu" di kantor.

Adalah hal yang benar, yang dilakukan siginicant other/ orang yang paling dekat dengan anak merupakan tolak ukur bagaimana perilaku anak itu sendiri.

Namun begitu, hubungan sebab-akibat ini hanya sedikit disadari oleh orangtua, bahkan tidak disadari sama sekali.

Si ujang, semenjak kecil berperilaku seperti perempuan. Ternyata sebenarnya ayahnya mengharapkan seorang anak perempuan, sehingga dari kecil keinginan ayahnya ini secara "tidak sadar" tertuang dalam perilaku, membelikan ujang boneka, menyuruhnya banyak melakukan pekerjaan perempuan, namun menghardik saat ujang melakukan kesalahan dengan kata-kata "gitu aja tidak bisa, kayak anak perempuan saja..".

Sang ayah juga tidak bisa memberikan contoh yang baik kepada Ujang mengenai peran ayah sebagai kepala rumah tangga. Ia kerap "main tangan" jika sedang marah dengan ibunya. Hal ini dilakukan terus-menerus dan saat ini Ujang mengaku lebih suka dengan laki-laki secara seksual daripada dengan perempuan.

Terkadang hal yang simpel, dianggap bukan sesuatu yang besar sehingga diabaikan sama sekali. Namun bukankah sobekan besar di kertas dimulai dari sobekan kecil?

Saat ayah ujang mengeluhkan gangguan orientasi seksual Ujang, maka yang pertama harus disalahkan adalah ayah ujang itu sendiri. Dan semuanya sudah terlambat bukan? Ujangpun menggunakan logika-rasionalisasi mengenai keadaannya, bahwa ini sudah takdir, bawaan genetik, dan lain sebagainya...asalkan ia tetap bisa mempertahankan dirinya yang "seperti itu.."..

Ini adalah suatu bentuk mekanisme pertahanan ego yang biasa dimiliki seseorang ketika egonya terancam. Dari sudut pandang ego state, maka diri ujang yang "perempuan" ini adalah ego state tertentu yang tercipta dari kejadian traumatik, pengkondisian dan sugesti terus-menerus yang menciptakan citra dirinya saat ini. Ego State ujang "perempuan" sudah eksis dan mendominasi sistem diri ujang, sehingga mampu mewujudkan kesadaran sepenuhnya merasa menjadi perempuan. Saat ada orang lain yang meminta ujang berperilaku lebih "laki-laki", maka ujang "perempuan" pasti merasa akan dihilangkan hak hidupnya, ia takut akan dimusnahkan...maka dari itu reaksi "melawan", "menyangkal" atau "menarik diri" biasa terjadi.

Lalu bagaimana seharusnya?semua adalah keputusan ujang, apakah ia harus berubah atau tetap dengan citra dirinya saat ini, namun yang jelas saat ujang menyadari bagaimana "dirinya" tercipta, kejadian apa yang membentuknya, kesadaran bahwa dirinyalah penentu jalan hidupnya sendiri, maka ia memiliki kesempatan untuk menempuh jalan apapun yang ia mau.

Saat ada orangtua mengkonsultasikan anaknya, biasanya saya memanggil kedua orangtuanya sekaligus. Menanyakan secara sebenar-benarnya bagaimana pola asuhnya, dan sebisa mungkin membahas perubahan yang perlu dilakukan. Jika ada yang masih ditutup-tutupi lebih baik sesi dihentikan saja, karena jelas orangtua tidak mau sepenuh hati melakukan perbaikan. Setelah proses dengan orangtua selesai dan orangtua menyepakati hal-hal yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan (dari sudut pandang teori behavior), tanpa intervensi yang khusus, biasanya anak langsung mengalami perubahan significant.

Sekarang kita sudah sama-sama tahu, seberapa besar dampak perilaku orangtua kepada anak. Selanjutnya..perilaku kita menjadi pilihan kita masing-masing...

Semoga kedamaian selalu bersama kita

Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog


  The Author

Danang Baskoro, S.Psi., M.Psi